Money Hacks

Belanja Saham Semudah Belanja di Pasar

August 4, 2017

Post ini merupakan postingan ulang yang pernah saya tulis di rula.co.id dengan judul “Wow, Belanja Saham Semudah Belanja Cabe di Pasar” dengan sedikit penyesuaian kata, Silakan mengunjungi artikel asli di link tersebut. Terima kasih.

Mama saya, seorang ibu rumah tangga yang terbiasa menabung hanya di tabungan konvensional, sampai Beliau mengenal investasi saham sekitar satu tahun yang lalu. And you know what? She loves it! Ternyata untuk berinvestasi saham, yang kata sebagian besar orang itu complicated, menurut Mama saya tidak sesulit yang dibayangkan sebelumnya lho. Bahkan semudah berbelanja cabe di pasar tradisional. Pastinya kamu pernah dong belanja ke pasar tradisional? Minimal menemani nyokap atau sahabat ke pasar. Nah, apa saja sih persamaan belanja saham dengan belanja di pasar tradisional?

Ukuran Pembelian

Di pasar, biasanya ukuran pembelian diukur dengan timbangan. Saat ingin membeli, minimal kita membeli dalam ukuran per ons atau per kilogram. Sama halnya dengan membeli saham, dalam membeli saham, ukuran pembelian diukur dengan sebutan lot. Minimal pembelian saham adalah 1 lot. Kalau 1 ons adalah 100 gram, maka 1 lot adalah 100 lembar.

Misalnya kamu membeli cabe merah keriting di pasar sebesar Rp 50/gram atau Rp 5000/ons, maka berbelanja saham juga tidak jauh berbeda. Anggap saja, kamu ingin membeli saham dengan harga Rp 500/lembar, maka cukup dengan mengeluarkan uang Rp 50.000 kamu sudah mendapatkan 1 lot saham.

Prinsip Supply – Demand

Sama halnya dengan harga cabe yang bisa naik turun sesuai dengan permintaan dan persediaan di pasar. Harga saham juga mengalami fluktuasi naik turun dalam jangka pendek. kamu sering dengar kan kalau pada saat menjelang lebaran harga cabe naik. Usut punya usut dikarenakan permintaan cabe yang meningkat tetapi tidak banyak stok cabe yang ada di pasar, harga cabe pun menjadi naik. Begitu pula jika minat investor terhadap saham tertentu meningkat, tetapi tidak banyak stok saham tersebut di pasar saham, harga saham tersebut juga cenderung naik. Begitu pula dengan sebaliknya.

Tawar Menawar Harga

Nah ini dia yang menarik kalau berbelanja di pasar. Bisa ditawar! Eits, bukan cuma di pasar tradisional lho bisa tawar-menawar harga. Belanja saham juga bisa tawar-menawar. Kamu cukup memasukkan harga penawaran lebih rendah dari harga pada saat ditawarkan. Jika harga penawaran yang dimasukkan tercapai, saham tersebut otomatis akan terbeli dan masuk ke portofolio saham kamu. Begitu juga kalau ingin menjual saham yang dimiliki, kamu cukup memasukkan harga penawaran yang lebih tinggi dari harga pada saat ditawarkan. Jika tercapai, saham tersebut otomatis akan terjual. Mudah kan?

Memilih Dengan Cermat

Walaupun proses belanja saham ini mudah, tentu kamu juga tidak ingin dong sembarangan membeli saham. Kalau berbelanja di pasar saja kita periksa dengan cermat satu per satu sebelum membeli, belanja saham pun seharusnya demikian. Nah, kalau yang ini gampang-gampang susah.

Ada tips paling gampang yang bisa kamu pertimbangkan nih gaes. Sama dengan berbelanja di pasar, kalau kios itu ramai pembeli, biasanya barang yang dijual juga memiliki mutu yang baik. Nah, di pasar saham, kamu dapat memilih saham-saham dalam “kios” indeks saham LQ45 yang berisi saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar yang besar atau sering diperdagangkan. Kenapa? Agar lebih mudah untuk dibeli atau dijual kembali. Ataupun kamu dapat memilih saham-saham dalam “kios” indeks saham syariah atau Jakarta Islamic Index, jika ingin membeli saham-saham yang sesuai kaidah Syariah. Nah, kalau IHSG atau indeks harga saham gabungan adalah nilai rata-rata semua saham yang diperdagangkan di pasar saham Indonesia.

Hmm, ternyata belanja saham mudah ya. Kalau Mama saya yang sudah menginjak usia 50an dan awet muda itu bisa, tentunya kamu juga pasti bisa dong gaes. So, sudah siap buat segera mulai berinvestasi saham?

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply