Just My 2 Cents

Uang dan Komitmen

March 8, 2016

Sambil ngopi-ngopi di sebuah gerai kopi terkenal di Jakarta, saya ngobrol dan bertukar pikiran tentang uang dengan teman saya. Sebelumnya saya baru aja selesai baca bukunya Mbak Dwita Ariani “Your Money, Your Attidue”, so this is a hot topic for me.

Ngobrolin soal duit, kadang terasa lebih tabu dibanding ngomongin seks. Gak semua orang mau ngomongin tentang kondisi keuangan mereka. Ditanyain tentang gaji aja, banyak yang nggak mau kasih tau, apalagi ngomongin yang lain-lain.

Mengelola keuangan secara teori, sudah banyak orang yang tau. Bahkan anak-anak pun banyak yang sudah bisa mengelola uang jajannya sendiri tanpa perlu harus membaca buku-buku perencanaan keuangan. Mereka belajar dengan mencontoh bagaimana ibu atau ayahnya berbelanja dan mengleola keuangannya. That’s why, dalam hal uang, pengetahuan teori saja tidak cukup, perlu dilakukan action.

Ada cerita menarik yang pernah saya alami, saya bertemu dengan seseorang yang berprofesi sebagai dosen yang mengajar tentang manajemen investasi dan tau betul bagaimana cara menghitung saham mana asja yang undervalue, akan tetapi, orang tersebut sama sekali belum pernah membuka akun saham apalagi berinvestasi saham. Sayang sekali bukan? Bahkan boleh dibilang ironis. Seseorang yang mempunyai literasi finansial yang cukup baik, tidak pernah melakukan action. Tentunya action yang dilakukanakan akan jauh lebih efektif jika ditunjang dengan pengetahuan yang cukup.

Kemudian muncul teori ala ala dari pikiran saya, mengelola uang itu bukan soal seberapa besar pengetahuan tentang uang, tapi seberapa besar komitmen dalam mengelola uang. Mungkin ini juga yang menjadi dasar inti buku Mbak Dwita, “Your Money your Attitude”, dan buku-buku bestseller lainnya seperti “Millionaire’s Mind”.

Terus, komitmen seperti apa yang dibutuhkan? Sama halnya dengan komitmen waktu menetapkan hati untuk menikah. It’s a lifetime commitment. Di buku “Your Money Your Attitude”, Mbak Dwita menekankan untuk memperlakukan uang sama seperti our loved ones. Bukan seperti mengagung-agungkan atau mendewakan uang, tapi lebih memperlakukan dengan cinta. Maksudnya gimana tuh? Mari flashback kembali apa yang dilakukan ketika mendapat 100rb dari seseorang, apakah reaksi yang dilakukan, “Yahh, Cuma 100 rb doank”, atau “Alhamdulillah, dapat 100rb”. Perbedaan perlakuan tersebut memperlihatkan bagaimana seseorang berpikir dan bersikap tentang uang.

Perasaan dan perlakuan positif ini, kemudian membentuk rasa bersyukur dan respek akan hasil kerja keras dalam menghasilkan uang. Dengan perasaan dan perlakuan positif yang dilakukan, kebiasaan membuang-buang uang yang tidak perlu dapat dihindari, dan bukan tidak mungkin rejeki semakin mendatangi kita. Hal ini akan sangat membantu dalam komitmen kita dalam mengelola keuangan secara baik. Komitmen inilah yang menjadi mesin pendorong untuk melakukan action-action yang diperlukan.

Nah, sekarang, bagaimana komitmen kamu dalam mengelola uang? Mari kembali berkaca sikap apa yang selama ini ksudah dilakukan ^_^

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply